Laman

Rabu, 07 Desember 2016

Aktiva Tetap - Depresiasi

1.     Pengertian  Depresiasi
Depresiasi adalah proses pengalokasian biaya perolehan aset tetap menjadi beban selama masa manfaatnya dengan cara yang rasional dan sistimatis. Pengalokasian biaya perolehan diperlukan agar dapat dilakukan penandingan yang tepat antara pendapatan dengan beban, sebagaimana diminta oleh prinsip penandingan. Depresiasi adalah proses pengalokasian biaya perolehan, bukan proses penilaian aset. Perubahan harga aset tetap yang terjadi di pasar, tidak perlu dicatat dalam pembukuan perusahaan, karena aset tetap dimiliki perusahaan untuk digunakan, bukan untuk dijual kembali. Oleh karena itu, nilai buku aset (biaya perolehan dikurangi akumulasi depresiasi), bisa sangat berbeda dengan harga pasar aset yang bersangkutan.
Pengakuan atas depresiasi aset tetap tidak berakibat adanya pengumpulan kas untuk mengganti aset lama dengan aset yang baru. Saldo akun akumulasi depresiasi menggambarkan jumlah depresiasi yang telah dibebankan pada periode-periode yang lalu, bukan menggambarkan dana yang telah dihimpun.

2.     Faktor-Faktor dalam Perhitungan Depresiasi
Ada tiga faktor yang berpengaruh dalam perhitungan depresiasi, yaitu :

1.       Biaya perolehan, semua pengeluaran yang diperlukan untuk memperoleh sebuah aset sampai aset tersebut siap digunakan.
2.       Masa manfaat, atau kadang-kadang disebut juga umur aset, adalah jangka waktu pemakaian aset yang diharapkan oleh perusahaan. Masa manfaat juga dapat dinyatakan dalam satuan waktu, unit aktivitas (misalnya jam kerja mesin), atau satuan hasil yang diharapkan dari suatu aset. Masa manfaat adalah taksiran umur yang diharapkan berdasar kebutuhan reparasi, masa memberi manfaat, dan kerentanan terhadap ketinggalan zaman.
3.       Nilai residu, atau biasa disebut juga nilai sisa, adalah taksiran nilai tunai aset pada akhir masa manfaat aset tersebut. Nilai ini bias didasarkan pada taksiran nilai aset sebagai barang bekas, atau bisa juga atas dasar taksiran bila aset ditukar dengan aset lain di akhir masa manfaat.

3.     Metode-Metode Depresiasi
Depresiasi dapat dicatat dan dilaporkan dengan menggunakan metode-metodeberikut :

1.       Garis Lurus
2.       Saldo Menurun
3.       Jumlah Angka Tahun
4.       Satuan Kegiatan

      3.1       Garis Lurus
Dalam metode garis lurus, beban depresiasi periodik sepanjang masa pemakaian asset adalah 
sama besarnya. Menghitung depresiasi menurut garis lurus adalah sebagai berikut :


Depresiasi tahunan  = (Harga Perolehan - Harga Residu)
Umur Ekonomis

Metode tersebut menganggap bahwa depresiasi merupakan fungsi dari waktu. Artinya, dipakai atau tidak, aktiva mengalami kemunduran.

Contoh kasus 1:

            Sebuah kios dibeli dengan harga Rp 8.000.000   dan diperkirakan dapat digunakan selama sepuluh tahun. Harga residu pada akhir tahun kesepuluh diperkirakan Rp 250.000

Depresiasi tahunan menurut metode garis lurus adalah :

(Rp 8.000.000- Rp 250.000)  = Rp 775.000
10

Contoh kasus 2:

PT. Angin Ribut telah mendatangkan sebuah mesin cetak seharga Rp 30.000.000, mesin tersebut diperkirakan berumur 5 tahun dengan nilai residu Rp 5.000.000 kapasitas produksi total mesin cetak 1.000.000 unit. Produksi aktual tahun pertama sebesar 250.000 unit, produksi aktual tahun kedua 230.000 unit, produksi aktual tahun ketiga sebesar 210.000 unit, produksi aktual tahun keempat 170.000 unit, produksi aktual tahun kelima 140.000 unit.

PT. ANGIN RIBUT
Metode Garis Lurus
Tahun
Harga Perolehan
Beban Penyusutan
Akumulasi Penyusutan
Nilai Buku
1
 Rp     30,000,000
 Rp        5,000,000
 Rp                5,000,000
 Rp          25,000,000
2
 Rp     30,000,000
 Rp        5,000,000
 Rp              10,000,000
 Rp          20,000,000
3
 Rp     30,000,000
 Rp        5,000,000
 Rp              15,000,000
 Rp          15,000,000
4
 Rp     30,000,000
 Rp        5,000,000
 Rp              20,000,000
 Rp          10,000,000
5
 Rp     30,000,000
 Rp        5,000,000
 Rp              25,000,000
 Rp            5,000,000
 
Perhitungan untuk beban penyusutan : 20%  X (Rp 30.000.000 - Rp 5.000.000)
-          100% : 5 = 20%
      3.1       Saldo Menurun
Pada metode saldo menurun, biaya depresiasi dari tahun ke tahun semakin menurun. Biaya depresiasi per tahun dihitung dengan cara mengalihkan nilai buku asset pada awal tahun dengan tarif depresiasi. Dalam hal ini tarif depresiasi tetap sama pada setiap tahun, akan tetapi nilai buku setiap tahun semakin menurun.
Nilai buku pada awal tahun pertama adalah sama dengan biaya perolehan asset, sedangkan pada tahun-tahun berikutnya, nilai buku adalah selisih antara biaya perolehan dengan akumulasi depresiasi pada awal tahun. Metode ini nilai residu diabaikan dalam perhitungan depresiasi tahunan. Akan tetapi, nilai residu akan menjadi batas jumlah depresiasi yang akan dilakukan. Depresiasi akan berakhir apabila nilai buku telah mencapai jumlah yang sama dengan taksiran nilai residu. Tarif depresiasi yang sering digunakan adalah tarif metode garis lurus yang dikalikan dua, sehingga metode ini sering disebut metode saldo menurun ganda ( double declining balance method ).

Contoh kasus 1:

            PT. Bromo pada tanggal 1 Januari 2011 membeli sebuah truk dengan biaya perolehan sebesar Rp 130.000.000 dengan nilai sisa Rp 10.000.000 jadi, biaya perolehan truk yang akan di depresiasi adalah Rp 120.000.000 yang diperoleh dari Rp 130.000.000 (harga perolehan) - Rp 10.000.000 (nilai sisa), dengan masa manfaat truk adalah 5 tahun dan tarif depresiasi truk per tahun adalah 20 % (100% : 5)
Jika menggunakan metode saldo menurun ganda, maka tariff metode garis lurus di atas yaitu 20% akan dikalikan 2 sehingga tarifnya menjadi 40% per tahun. Rumus dan perhitungan depresiasi truk untuk tahun pertama adalah sebagai berikut :

Nilai buku                                Tarif                            Beban
     Pada                X           Saldo Menurun        =         Depresiasi
Awal tahun                                                                  Setahun

  Rp 130.000.000       X                   40%                 =    Rp 52.000.000


Contoh kasus 2:

PT. Angin Ribut telah mendatangkan sebuah mesin cetak seharga Rp 30.000.000, mesin tersebut diperkirakan berumur 5 tahun dengan nilai residu Rp 5.000.000 kapasitas produksi total mesin cetak 1.000.000 unit. Produksi aktual tahun pertama sebesar 250.000 unit, produksi aktual tahun kedua 230.000 unit, produksi aktual tahun ketiga sebesar 210.000 unit, produksi aktual tahun keempat 170.000 unit, produksi aktual tahun kelima 140.000 unit.

PT. ANGIN RIBUT
Metode Saldo Menurun Ganda
Tahun
Harga Perolehan
Beban Penyusutan
Akumulasi Penyusutan
Nilai Buku
1
 Rp     30,000,000
 Rp       12,000,000
 Rp              12,000,000
 Rp          18,000,000
2
 Rp     30,000,000
 Rp        7,200,000
 Rp              19,200,000
 Rp          10,800,000
3
 Rp     30,000,000
 Rp        4,320,000
 Rp              23,520,000
 Rp            6,480,000
4
 Rp     30,000,000
 Rp        2,592,000
 Rp              26,112,000
 Rp            3,888,000
5
 Rp     30,000,000
 Rp        1,555,200
 Rp              27,667,200
 Rp            2,332,800

Perhitungan untuk beban penyusutan : 20% X 2= 40%

·         tahun ke-1 =  40 % X (Rp 30.000.000 – 0)
·         tahun ke-2 = 40 % X (Rp 30.000.000 – Rp12.000.000)
·         tahun ke-3 = 40 % X (Rp 30.000.000 – Rp19.200.000)
·         tahun ke-4 = 40 % X (Rp 30.000.000 – Rp23.520.000)
·         tahun ke-5 = 40 % X (Rp 30.000.000 – Rp26.112.000)
3.2       Jumlah Angka Tahun
Dalam metode ini, jumlah depresiasi tahunan ditentukan oleh perkalian antara sebuah pecahan dengan harga untuk di depresiasi ( harga perolehan – harga residu ). Penyebut pecahan tersebut adalah jumlah angka setiap tahun. Jumlah tersebut dapat juga diperoleh dengan menggunakan Rumus dibawah ini:

Jumlah angka tahun =   n2  + n
                                                       2
            Pembilang pecahan tersebut untuk setiap tahun adalah angka masing-masing tahun dengan urutan terbaik.

Contoh kasus:

PT. Angin Ribut telah mendatangkan sebuah mesin cetak seharga Rp 30.000.000, mesin tersebut diperkirakan berumur 5 tahun dengan nilai residu Rp 5.000.000 kapasitas produksi total mesin cetak 1.000.000 unit. Produksi aktual tahun pertama sebesar 250.000 unit, produksi aktual tahun kedua 230.000 unit, produksi aktual tahun ketiga sebesar 210.000 unit, produksi aktual tahun keempat 170.000 unit, produksi aktual tahun kelima 140.000 unit.

PT. ANGIN RIBUT
Metode Jumlah Angka Tahun
Tahun
Harga Perolehan
Beban Penyusutan
Akumulasi Penyusutan
Nilai Buku
1
 Rp     30,000,000
 Rp        8,333,333
 Rp                8,333,333
 Rp          21,666,667
2
 Rp     30,000,000
 Rp        6,666,667
 Rp              15,000,000
 Rp          15,000,000
3
 Rp     30,000,000
 Rp        5,000,000
 Rp              20,000,000
 Rp          10,000,000
4
 Rp     30,000,000
 Rp        3,333,333
 Rp              23,333,333
 Rp            6,666,667
5
 Rp     30,000,000
 Rp        1,666,667
 Rp              25,000,000
 Rp            5,000,000
 
 Perhitungan untuk beban penyusutan : 5 tahun ( 1+2+3+4+5 = 15)

·         tahun ke-1 =  5/15  X (Rp 30.000.000 – Rp 5.000.000)
·         tahun ke-2 =  4/15  X (Rp 30.000.000 – Rp 5.000.000)
·         tahun ke-3 =  3/15  X (Rp 30.000.000 – Rp 5.000.000)
·         tahun ke-4 =  2/15  X (Rp 30.000.000 – Rp 5.000.000)
·         tahun ke-5 =  1/15  X (Rp 30.000.000 – Rp 5.000.000)

      3.1       Satuan Kegiatan atau Hasil
Dalam metode satuan hasil, masa manfaat tidak dinyatakan dalam satuan waktu, melainkan dalam satuan hasil produksi atau pemakaian yang diharapkan dari asset.
Untuk menerapkan metode ini, perusahaan harus menaksir total satuan hasil selama masa manfaat asset, dan selanjutnya membagikan biaya perolehan asset pada satuan-satuan hasil tersebut. Hasil yang diperoleh merupakan beban depresiasi per satuan hasil. Tahap selanjutnya, beban depresiasi per satuan hasil dikalikan dengan hasil produksi tahun yang bersangkutan, sehingga dapat ditentukan besarnya beban depresiasi untuk tahun tersebut.

Contoh kasus 1:

 Pada tahun pertama truk milik PT. Bromo menempuh jarak sejauh 15.000 kilometer. Rumus penentuan beban depresiasi per satuan hasil dan beban depresiasi untuk setiap tahun selama masa manfaat adalah sebagai berikut :

Biaya Perolehan           :           Total                =          Beban Depresiasi
   Depresiasi                         Satuan Hasil                      Per Satuan hasil

Rp 120.000.000            :           100.000 km      =          Rp 1.200
 




Beban Depresiasi          X         Hasil Produksi  =          Beban Depresiasi
 Per Satuan hasil                         Tahun yang                   Tahun yang
                                                Bersangkutan                 Bersangkutan

Rp 1.200                X             15.000          =          Rp 18.000.000


Contoh kasus 2:

PT. Angin Ribut telah mendatangkan sebuah mesin cetak seharga Rp 30.000.000, mesin tersebut diperkirakan berumur 5 tahun dengan nilai residu Rp 5.000.000 kapasitas produksi total mesin cetak 1.000.000 unit. Produksi aktual tahun pertama sebesar 250.000 unit, produksi aktual tahun kedua 230.000 unit, produksi aktual tahun ketiga sebesar 210.000 unit, produksi aktual tahun keempat 170.000 unit, produksi aktual tahun kelima 140.000 unit.


PT. ANGIN RIBUT
Metode Satuan Unit Kegiatan
Tahun
Harga Perolehan
Beban Penyusutan
Akumulasi Penyusutan
Nilai Buku
1
 Rp     30,000,000
 Rp        6,250,000
 Rp                6,250,000
 Rp          23,750,000
2
 Rp     30,000,000
 Rp        5,750,000
 Rp              12,000,000
 Rp          18,000,000
3
 Rp     30,000,000
 Rp        5,250,000
 Rp              17,250,000
 Rp          12,750,000
4
 Rp     30,000,000
 Rp        4,250,000
 Rp              21,500,000
 Rp            8,500,000
5
 Rp     30,000,000
 Rp        3,500,000
 Rp              25,000,000
 Rp            5,000,000

Perhitungan untuk beban penyusutan :  (Rp 250.000/ 1000000 X 100%)*(30000000-5000000)

·         tahun ke-1 =  (Rp 250.000  X 100%) X (Rp 30.000.000 – Rp 5.000.000)
   Rp 1.000.000

·         tahun ke-2 =  (Rp 230.000  X 100%) X (Rp 30.000.000 – Rp 5.000.000)
   Rp 1.000.000

·         tahun ke-3 =  (Rp 210.000  X 100%) X (Rp 30.000.000 – Rp 5.000.000)
   Rp 1.000.000

·         tahun ke-4 =  (Rp 170.000  X 100%) X (Rp 30.000.000 – Rp 5.000.000)
   Rp 1.000.000

·         tahun ke-5 =  (Rp 140.000  X 100%) X (Rp 30.000.000 – Rp 5.000.000)
   Rp 1.000.000




Tidak ada komentar:

Posting Komentar